Ini adalah kisahku, kisahku saat aku menghadapi phobia yang terus saja menghantui setiap detik kehidupanku.Jujur aku risih dengan semua ini. Tapi tak ada lagi yang dapat aku lakukan selain menjalani terapi saat ini. Awalnya aku merasa kalau aku mengalami hal-hal yang aku sendiri menganggapnya aneh. Namun seiring waktu keadaan itu semakin memperburuk keadaanku. Fikiran dan jiwaku sama-sama terganggu (tapi bukan berarti aku gila). Dan ini terjadi lagi saat ini, Sewaktu aku dan beberapa orang teman-temanku melakukan perjalanan dari Banda Aceh ke lhokseumawe. Aku mengalami hal yang sama lagi seperti sebelum-sebelumnya. Tapi kali ini aku takut dengan kaca. Kaca yang aku lihat pada saat itu adalah kaca mobil. kaca itu tidak pecah, masih utuh. Namun tiba-tiba kepala aku berdenyut dan aku langsung merasa seperti didekatin oleh kaca tersebut. Aku melihat kaca itu seperti melihat sebuah pisau tipis yang sangat tajam yang hanya tinggal beberapa senti lagi akan segera menusuk mata bahkan menyayat beberapa bagian tubuh ku. Aku memberanikan diri untuk terus melihatnya. Dan ketika aku merasa tidak mampu melakukannya lagi, aku berhenti menatap dan langsung memejamkan kedua mata ku. Namun pikiran ku terus saja berfikir bahwa benda itu sudah sangat dekat dengan mata dan kulit ku. Sempat terpikir untuk keluar dari mobil, tapi itu tidak mungkin aku lakukan karena waktu kejadian itu sudah jam 12 malam. Selang beberapa hari berikutnya aku melakukan perjalanan lagi, namun perjalanan kali ini masih disekitar Banda Aceh. Dan aku mengalami hal yang sama lagi. Tiba-tiba muncul dipikiran aku ada sebuah gunting menuju kearah aku dan siap mencongkel kedua belah mata ku. Karena merasa tidak tahan aku memukul kepala ku sendiri saat itu dan kemudian langsung pulang. Aku sudah menceritakan keadaan ku ini kepada keluarga ku tapi aku tak menemukan tanggapan apa-apa. Beberapa dari keluarga ku malah menertawakan ku saat mendengar ceritaku. Memang aku sudah berani melihat bahkan sekali-kali memegang benda tajam tersebut (pisau), itu pun terjadi berkat terapi yang aku jalani selama ini. Namun aku belum bisa benar-benar memegang pisau terlalu lama. Paling kuat aku bertahan melakukannya hanya kurang lebih 10 menit. Selebihnya sering aku paksakan dan akhirnya aku benar-benar harus menjauhkan pisau itu dari diri ku. Jujur aku sendiri merasa terganggu dengan keadaan ini. Tapi inilah kenyataannya, dan aku harus terima ini semua. Aku merasa beruntung bertemu mbak fitri. Banyak trik atau tips yang diberikan buat ku tuk jalani proses pemulihan. Semangat yang diberikannya membuatku bertahan sampai sekarang. Walaupun aku tak tahu sampai kapan aku akan bisa bertahan menghadapi ini semua. Namun ku nyakin Allah punya rahasia tersendiri dibalik semua ini. Aku hanya bisa berharap agar kalian tidak mengalami hal yang sama dengan diriku.Senin, 02 Agustus 2010
Kisahku : " Aq dan Phobia q."
Ini adalah kisahku, kisahku saat aku menghadapi phobia yang terus saja menghantui setiap detik kehidupanku.Jujur aku risih dengan semua ini. Tapi tak ada lagi yang dapat aku lakukan selain menjalani terapi saat ini. Awalnya aku merasa kalau aku mengalami hal-hal yang aku sendiri menganggapnya aneh. Namun seiring waktu keadaan itu semakin memperburuk keadaanku. Fikiran dan jiwaku sama-sama terganggu (tapi bukan berarti aku gila). Dan ini terjadi lagi saat ini, Sewaktu aku dan beberapa orang teman-temanku melakukan perjalanan dari Banda Aceh ke lhokseumawe. Aku mengalami hal yang sama lagi seperti sebelum-sebelumnya. Tapi kali ini aku takut dengan kaca. Kaca yang aku lihat pada saat itu adalah kaca mobil. kaca itu tidak pecah, masih utuh. Namun tiba-tiba kepala aku berdenyut dan aku langsung merasa seperti didekatin oleh kaca tersebut. Aku melihat kaca itu seperti melihat sebuah pisau tipis yang sangat tajam yang hanya tinggal beberapa senti lagi akan segera menusuk mata bahkan menyayat beberapa bagian tubuh ku. Aku memberanikan diri untuk terus melihatnya. Dan ketika aku merasa tidak mampu melakukannya lagi, aku berhenti menatap dan langsung memejamkan kedua mata ku. Namun pikiran ku terus saja berfikir bahwa benda itu sudah sangat dekat dengan mata dan kulit ku. Sempat terpikir untuk keluar dari mobil, tapi itu tidak mungkin aku lakukan karena waktu kejadian itu sudah jam 12 malam. Selang beberapa hari berikutnya aku melakukan perjalanan lagi, namun perjalanan kali ini masih disekitar Banda Aceh. Dan aku mengalami hal yang sama lagi. Tiba-tiba muncul dipikiran aku ada sebuah gunting menuju kearah aku dan siap mencongkel kedua belah mata ku. Karena merasa tidak tahan aku memukul kepala ku sendiri saat itu dan kemudian langsung pulang. Aku sudah menceritakan keadaan ku ini kepada keluarga ku tapi aku tak menemukan tanggapan apa-apa. Beberapa dari keluarga ku malah menertawakan ku saat mendengar ceritaku. Memang aku sudah berani melihat bahkan sekali-kali memegang benda tajam tersebut (pisau), itu pun terjadi berkat terapi yang aku jalani selama ini. Namun aku belum bisa benar-benar memegang pisau terlalu lama. Paling kuat aku bertahan melakukannya hanya kurang lebih 10 menit. Selebihnya sering aku paksakan dan akhirnya aku benar-benar harus menjauhkan pisau itu dari diri ku. Jujur aku sendiri merasa terganggu dengan keadaan ini. Tapi inilah kenyataannya, dan aku harus terima ini semua. Aku merasa beruntung bertemu mbak fitri. Banyak trik atau tips yang diberikan buat ku tuk jalani proses pemulihan. Semangat yang diberikannya membuatku bertahan sampai sekarang. Walaupun aku tak tahu sampai kapan aku akan bisa bertahan menghadapi ini semua. Namun ku nyakin Allah punya rahasia tersendiri dibalik semua ini. Aku hanya bisa berharap agar kalian tidak mengalami hal yang sama dengan diriku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar