Senin, 02 Agustus 2010

Cerpen: "Hujan Tanpa Awan."

Kemarau yang berkepanjangan telah lama berlalu. Tetapi hatiku yang kian gersang tak dapat dibasahi oleh hujan yang turun semalam. Kisah itu masih jelas membayangi ingatanku saat ini. Karna peristiwa itu telah membawa pergi jati diriku. Yang tinggal hanya hampa. Tak ada kebahagiaan, tak ada kasih sayang dan tak ada tempat untukku bermanja. Mama pergi, papa juga pergi. Tak ada lagi yang tesisa untukku. Untuk ku jadikan kisah baru dalam hidupku. Karena keegoisan itu aku kehilangan semua. Bahkan yang lebih parah lagi aku hampir kehilangan diriku sendiri. Kekacauan yang terjadi dalam keluarga membuatku beku dan tak berdaya untuk menghadapi semua ini. Aku sendiri bahkan tidak percaya ketika caci maki itu ditujukan buat diriku. Kehadiranku dianggap sebagai pemusnah kebahagiaan mereka, setiap masalah yang datang akulah yang dituduh. Seperti seorang terdakwa aku harus menerima semua keputusan dari seorang hakim tanpa boleh membantah satu kata pun. Kemelut yang kualami selama ini makin menyiksa batinku. Hingga akhirnya kuputuskan untuk pergi dari rumah besar ini. Rumah ini memang terlalu indah. Tapi sayang, penghuninya buas seperti srigala, yang suatu saat bisa menerkam anak-anaknya hanya untuk kepentingan pribadinya. Jika saja anak-anak didunia ini memiliki keluarga seperti keluargaku bukan tak mungkin dunia ini akan cepat kiamat. Satu bulan telah berlalu, aku sekarang tinggal sendiri. Tak ada papa dan juga mama yang selalu membentakku. Semoga saja keadaan ini akan membuatku semakin dewasa. Kuakui tempat tinggalku tak sebesar istana yang pernah kutinggalkan sebulan yang lalu. Rumah ini memang terlalu kecil. Tapi, cukup nyaman buat diriku. Dirumah inilah kudapatkan kedamaian dan ketenangan batin. percuma tinggal diistana kalau yang kudapatkan hanyalah sepotong jiwa yang tersisih. Lebih baik tinggal dibawah kolong jembatan. Agar aku menemukan jiwa ku yang utuh. “ Selamat tinggal mama……..” “Selamat tinggal papa……….” Semoga dikemudian hari kalian dapat menjadi manusia yang lebih baik. Manusia yang tak pernah mengejar karir hanya karena takut miskin. Jalan didepan tempat kontrakan ku digenangi air, hal ini disebabkan karena semalam hujan turun dengan lebatnya. Aku terpaksa menyebrangi genangan air tersebut agar sampai disekolahku. Mulai sekarang aku harus pandai mengatur waktu, dan singkirkan semua kegiatan mejeng dengan temanku, atau….. sekedar keliling kota buat nyari situasi baru. Aku harus belajar hemat. Aku harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hariku. Alhamdulillah aku sekarang sudah dapat pekerjaan. Walaupun hanya sebagai pramusaji disebuah restoran dan pulang kadang - kadang larut malam. Keadaan yang beginilah membuat ku semakin mengerti betapa susahnya mencari uang. Kadang aku akui, aku sering panik saat uang sakuku mulai menipis. Tapi itu bukan masalah, karena lama - kelamaan aku jadi terbiasa. “Hai Gun!.... kekantin yuk…!!! ajak Dilla. “ Sorry ya Dil, kayaknya aku ngak bisa. Lain kali aja ya….!!! “ ya sudah, aku cabut dulu ya…!!!. kemudian Dilla langsung berlari keluar menuju kantin. Sementara itu, aku hanya mampu menatap kepergian sahabatku dengan tatapan hampa. Jujur, sebenarnya aku ingin banget ngumpul bareng mereka, ketawa ketiwi, truss….. godain cowok-cowok yang sering lewat didepan kelas. “ Maafkan aku Dil, aku ngak bisa ngumpul lagi sama kalian. Situasi yang kuhadapi sekarang sangat bertentangan dengan kehidupannku dulu” . Ruang kelas sepi, hanya sesekali terdengar suara ranting kering jatuh menimpa bebatuan. Angin yang berhenbus sepoi-sepoi pun menambah suasana menjadi hening. Entah mengapa tiba-tiba aku teringat akan mama dan papa. Tak terasa air mataku pun mengalir. Sudah 3 bulan kutinggalkan mereka, rumahku, bahkan orang yang sangat aku sayangi. Dia itu tidak lain adalah mang karman. Ia sangat menyayangiku lebih dari orang tuaku. Ketika peristiwa itu terjadi, ia ikut kabur bersamaku. Tapi, aku tak tau dimana dia sekarang. Lelah sudah aku mencarinya, tapi sampai sekarang aku belum pernah melihat batang hidungnya. Seandainya mama dan papa tidak bersengketa, mungkin aku ngak akan merasa kehilanagan. Dan aku gak perlu memusuhi mahkluk yang namanya cowok dalam hidupku. Aku tau mereka punya hak untuk punya perasaan terhadap siapa saja termasuk aku. Tapi sayang, kejadian yang kualami selama ini telah membuat aku trauma untuk percaya sama makhluk yang namanya cowok. Aku takut, kalau saja kejadian yang menimpa keluargaku bakal kualami juga nantinya. Karena itulah aku paling membenci mereka. Kadang aku merasa kesel sendiri, saat sohib-sohibku nanyak alasan kebencianku terhadap kaum cowok. Aku memang sering ngegangguin mereka, tapi kadang-kadang aku juga membencinya. Kalau memang cowok yang kugangguin bersahabat ya…. Sah-sah saja aku terima persahabatan mereka, tapi kalau udah menjurus kekata simpati atau apalah namanya, aku harus menyingkirkannya jauh-jauh dari kehidupanku. Aku sadar siapa sebenarnya diriku ini. Tapi, aku sendiri tak tahu mengapa perasaan itu sering menghantuiku. Warna langit sudah agak kemerah-merahan. Burung-burung sudah pulang kesarangnya. Perahu nelayan satu persatu mulai meninggalkan dermaga. Makin lama matahari makin tenggelam diufuk barat. Hingga yang tinggal hanya kehampaan. Saat ini aku sedang berada ditempat aku bekerja. Aku mengantar menu-menu yang dipesan oleh para tamu yang memilih restoran ini sebagai tempat makan malamnya. Tiba-tiba disudut ruangan itu kudapatkan sosok egois. Aku tertegun tak percaya, saat ini aku sedang melihat papa ku bersama seorang wanita yang pastinya bukan ibuku. “Papa……!!!! Suara itu hanya tersedat dikerongkonganku. Melihat kejadian itu kebencianku makin menggebu-gebu. Lalu dengan lagak seorang pelayan egois kudekati meja itu untuk mengantarkan menu pesanannya. Batinku terus menjerit, sungguh aku tak bisa menerima kenyataan ini. Lalu timbul berbagai pertanyaan dibenakku. “ Dimanakah mama sekarang…???. Pertanyaan itu membuatku semakin ingin cepat bertemu mama. Karena itulah akhirnya aku pamit dengan berbagai alasan hingga akhirnya aku diizinkan pulang oleh bosku. Keesokan harinya aku berangkat kerumah mama. Jalan agak sepi, ketika sebuah taxi yang kutumpangi memasuki sebuah istana megah ini. Aku turun dan membayar taxi. Aku masih berdiri menatap rumah megah ini hingga tak kusadari taxi yang kutumpangi telah menghilang dari hadapanku. Kudekati rumah megah ini dengan hati berdebar-debar. Seorang setengah baya keluar setelah mendengar bunyi bel yang kutekan 5 menit yang lalu. Betapa terkejutnya aku melihat perempuan itu. Sungguh diluar dugaanku, wanita yang berbaju daster yang sedang berdiri terpaku didepanku adalah mamaku sendiri. Spontan saja aku memeluknya. Tak terasa air mata menghiasi pipiku menyambut haru pertemuan ini. Dan kulihat mama menangis juga. Hampir 10 menit kami berpelukan sampai akhirnya aku sadar akan tujuan ku kemari. “ Ma…., maafin aku ya! Aku telah meninggalkan mama, aku….aku…. aku ngak tau kalau semua ini akan terjadi. Pintaku sama mama sambil melepaskan pelukanku. ”Kamu ngak salah kok gun, mama yang salah” kata mama disela tangisannya. Kemudian mama menuntunku masuk kedalam. Suasana rumah sangat berbeda. Tapi itu bukan masalah buatku. Cerita demi cerita mengalir deras bak air sungai yang mengalir dicelah bebatuan. Aku ingin kebelakang tuk melihat-lihat keadaan dikolam renang. Tapi anehnya, mama langsung mencegahku. Hal itu membuat ku bertanya-tanya “ada apakah gerangan?”. Karena merasa penasaran, aku tidak mengindahkan kata-kata mama. Aku langsung melangkahkan kakiku menuju kebelakang. Betapa terkejutnya aku saat kudapati papaku sedang bersama wanita itu. Wanita yang kulihat semalam. Dengan emosi yang meluap-luap ku hampiri papa. Melihat kedatanganku papa juga sangat terkejut, sedangkan wanita itu hanya memandangku dengan pandangan sinis. “Pa, aku tu ngak ngerti. Kenapa papa kok tega-teganya nyakitin mama, emang mama salah apa sih?” tanyaku menahan emosi. “Hei…!!! Tau apa kamu, urus aja dirimu sendiri. Jangan ikut campur dalam urusan rumah tanggaku.” Kata papaku kasar. “Aku berhak ikut campur karna aku adalah anakmu dan perempuan itu adalah mamaku, istrimu” kataku dengan nada tinggi. Sementara itu, didepan pintu mamaku berdiri sambil menangis. “ Sudahlah gun, kita kedalam saja!” ajak mama kemudian. “ Tidak ma, aku tidak bisa melihat penderitaan mama, aku perempuan punya nurani yang bisa merasakan apa yang mama rasakan saat ini. Tidak seperti perempuan jalang ini yang hanya bisa merusak kebahagiaan rumah tangga orang lain.” Kataku sambil menunjuk kearah wanita jalang itu. “Jangan sekali-kali kamu sebut dia wanita jalang. Karna ia lebih baik dari pada mamamu” bentak papaku kemudian. Aku sangat terkejut mendengar kata-kata papaku.Tiba-tiba saja kepalaku terasa berat, pandanganku berkunang-kunang. Aku sendiri bahkan tak percaya kalau papa mampu mengeluarkan kata-kata itu. Dengan masih dikuasai emosi yang bergemuruh seperti gunung berapi yang ingin memuntahkan laharnya aku berkata.” Baik…, baik kalau begitu. Selamat tinggal tuan, permisi”. Kata-kata itulah yang terakhir keluar dari mulutku. Aku berjalan menuju ambang pintu lalu menarik lengan mamaku dan membawanya pergi dari rumah penguasa yang zalim itu. Yang hanya karena wanita cantik, tega membuat istrinya menderita batin. Terus terang aku menyesal punya papa sebejat itu. Mamaku masih menangis ketika sebuah taxi berhenti dihadapanku. Kemudian kami pun dibawa pergi taxi itu meninggalkan halaman rumah mewah itu. Suasana hening seketika, rasa emosi yang bergelora sudah agak mendingin. Mamaku pun sudah tidak menangis lagi. “Gun…., seharusnya kamu tidak menentang papamu tadi. Mama merasa ngak enak sama papamu sekarang” kata mama dengan suara lemah. “Ma…. Anggun mohon sama mama, tolong jangan bicarakan tentang dia lagi, buat anggun dia itu sudah tiada ma” kataku kesel. “Astaqfirullah al-a’zim” kata mamaku semenit yang lalu. “Sudahlah ma, ngak usah dibahas. Yang penting sekarang mama sudah bebas dari kandang macan itu” kataku tegas. Jalan lurus kedepan. Pohon-pohon tertanam sejajar ditepi jalan. Sawah yang luas membentang disebelah kiri dan kananku. Aku menikmati perjalanan ini dan mencoba bersikap setenang mungkin. Taxi berhenti persis didepan rumah kontrakan ku. Aku dan mama turun, tak lupa kubayar taxi, lalu kemudian aku dan mama memasuki rumah mungil ini. Aku tersenyum bangga. “ Ma, inilah tempat tinggalku. Mungkin rumah ini terlalu kecil buat mama. Tapi…” belum sempat aku melanjutkan kata-kataku mama langsung memotongnya. “ Gun, mama bangga sama kamu. Rumah ini terlalu bagus buat mama”. Kata mama sambil membelai rambutku. “ Thanks ma…, silahkan masuk” kataku mempersilahkannya. Ruangan yang tertata rapi membuat penghunimya merasa nyaman berada dirumah ini. Aku melihat senyum kecil dibibir mama saat ia melihat-lihat sekeliling rumah mungil ini. Ditambah lagi bunga-bunga bermekaran ditaman menyambut kedatangan mama dihari ini. Hari-hari kulalui dengan bahagia. Semua masalah yang kuhadapi dapat segera teratasi berkat bantuan mama. Kasih sayang yang diberikan mama padaku saat ini membuatku lupa pada konflik yang pernah kualami dulu, pada bentakan mama dan pada keegoisannya. Memang kuakui, sekeras-kerasnya hati seorang wanita ia akan lunak pada saat-saat tertentu.Tergantung pada faktor lingkungan yang dihadapinya. Jika faktor yang dihadapinya itu keras maka ia akan keras pula tapi sebaliknya, jika faktor yang dihadapinya itu lemah ia akan menjadi lemah. Setahun telah berlalu. Aku dan mama hidup dengan bahagia. Mama membuka butik didepan rumah, dan aku masih tetap bekerja di restaurant itu. Tiba-tiba seorang lelaki setegah baya menemui mama dan aku. Ia menceritakan bahwa perusahaannya telah bangkrut. Rumah besar itu telah disita. Dan perempuan itu telah pergi meninggalkannya. Tak ada lagi yang tersisa. Hanya ada satu permintaannya, yaitu menerima dirinya kembali dalam kehidupan kami. Ia berjanji akan merubah sikapnya. Ia sangat menyesal karena telah menyakiti mama. Keadaan yang demikian membuat mama iba. Tapi sayang, hatiku sudah cukup terluka oleh sikap papa saat itu. Bahkan aku sangat benci padanya sampai detik ini. “ Jika rasa sakit hatiku telah hilang, mungkin aku akan menerima tuan kembali. Tapi kalau untuk saat ini terus terang aku tidak bisa”. Kata itu begitu mulus keluar dari mulutku. Kulihat mata bening milik papa mulai berkaca-kaca, tapi aku tetap tidak merasa iba. Hatiku telah beku, kebencianku telah merasuki setiap relung hatiku. “ Apakah tidak ada lagi kesempatan untuk papa berubah…????” Tanyanya dengan suara parau. ‘ Hei…., kenapa menangis tuan? Dimana emosi mu yang dulu?” kataku mengejek. “ Cukup Gun, mama tidak ingin kamu bicara begitu sama papamu! Papamu sudah menyesali semua perbuatannya dan meminta maaf. Kenapa sih kamu masih memusuhinya?” kata mama dengan suara tinggi. “ Ia memang menyesalinya ma, tetapi setelah semuanya hancur. Makanya kalau berbuat mikir-mikir dong akibatnya!” kataku masih dalam keadaan emosi. Suasana menjadi hening seketika, mama masih berusaha untuk membujukku. Tapi percuma, itu semua tidak akan mengubah pendirianku. “ Tuan…… ingatlah satu hal, bahwa hujan tanpa awan itu tidak dapat diterka. Karna ia tidak pernah menberikan tanda yang pasti buat kita, kapan ia kan turun…!!!” . setelah berkata demikian aku pergi berlalu dari hadapan mereka. Aku sendiri tidak tahu harus kemana. Tapi yang pasti, aku ingin sendiri saat ini. Senja yang berkabut mampu mengukir satu kisah yang tak mungkin aku lupakan. Biarkan kisah itu menjadi pedoman buat kita semua, bahwa kebahagian tidak dapat dilihat melainkan dirasakan. (RAHMAWATI, 8 APRIL 2004)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar