Selasa, 03 Agustus 2010

Kenangan Sesaat Namun Penuh Makna

Puisi ini diberikan oleh seorang sahabat aku (Reza Sauqi/ Mboet) ketika aku berada di Ciawi-Bogor. Saat itu kami sedang mengikuti pelatihan (Training Of Trainers). Kebetulan waktu itu aku jadi sahabat rahasianya dia. Akhirnya Puisi ini tercipta, dia memberikannya padaku dan aku menerimanya. Puisi ini akan terus kusimpan, meskipun hanya tertulis dikertas yang usang. Ini adalah kenangan yang pernah ku punya dalam hidupku. Karna itu, aku akan menulisnya juga di blog ini.

Kedalaman itu . . .

Dalam palung matamu

Menyembunyikan ruang dan waktu

Dalam kelabu biru Keheningan itu . . .

Dalam detik waktu yang membeku

Mengkristalkan rotasi itu

Dalam sepi, dalam sunyi, membatu

Keteduhan itu terlihat

Dari jilbab yang terikat erat

Tetap saja banyak yang terpikat

Beberapa kumbang tetap mendekat

Di tengah malam gelap

Dan rajam kutukan penyihir

Pelaut yang berlayar dengan uap

Setitik teduh buat kami mencair



NB: Thank mboet atas puisinya.
Aq suka puisi ini.
karna aku memang suka puisi.
`````````````````````````````````````````````````````````````````````````````

Ini adalah puisi dari aku buat dia (Mboet). kami tukaran puisi waktu itu. Puisi ini kubuat setelah aku menerima puisi darinya Mboet. Ku harap dia kan menyukai puisi ini. Inilah isi puisi aku untuk sahabatku mboet.


S@H@B@T


Sahabat . . .

Kelamnya malam Takkan membuatku meninggalkanmu sahabatku.

Kilauan bintang Takkan tergantikan oleh kehadiranmu dalam hatiku

Senyummu mengukir indah hari-hariku

Bersamamu kurasakan kekuatan dalam diriku

Sahabat . . .

Jika esok kamu masih melihat matahari

Maka,

Sadarilah . . .

Bahwa aku akan selalu menemani hari-harimu

Meski jarak telah menghalangi kita untuk bertemu

Bukan berarti kamu hilang dari hatiku

Karna engkau,

Adalah sahabatku.


`````````````````````````````````````````````````````````````````````````````

Dan ini, ini adalah puisi dari aku buat Bunda Niken. Karna Bunda Niken adalah sahabat rahasia aku. Sebenarnya, bukan karena dia sahabat rahasia aku makanya aku bikinin dia puisi. Tapi ada yang lain yang ku kagumi dari sosok itu. Ia begitu penuh kasih sayang, perhatian dan ia tidak pernah membeda-bedakan orang. Sosok dia mengigatkanku pada ibu. Namun sayang, ibu aku tak seperti dirinya. Ku fikir, betapa bahagianya mereka (anak-anaknya) memiliki sosok ibu yang seperti dia. Sosok ibu yang selama ini ku impikan. Namun itu hanya bayangan kelabu yang terus warnai hari-hari ku. Berikut ini puisi yang ku tulis buat Bunda Niken.


Pelangi-pelangi indah telah menghilang

Bersama bayanganmu meninggalkanku di ruangan sepi ini

Aku memang tak mengenalmu

Seperti para malaikat yang selalu mengikuti gerakan langkah kakimu

Namun waktu meninggalkan cerita baru dalam hidupku

Kebersamaan yang tercipta dalam waktu yang singkat membuatku semakin mengenalimu

Kau tak membatasi waktu disaat ku semakin dekat dengan dirimu

Hingga rasa itu muncul seiring waktu yang berputar tanpa bisa kita hentikan

Bersama mu kurasakan hangatnya kasih seorang ibu

Bersama mu kurasa nyaman dalam diriku

Perhatianmu mengalihkanku dari mimpi buruk itu

Hingga keluar satu kata yang begitu tulus dari hatiku untukmu

"I LOVE YOU BUNDA"


NB: Terakhir aku mendengar kabar dari Bunda Niken. Puisi ini telah dibingkaikannya dan dipajang dirumahnya. Aku sangat senang mendengarnya. Baru kali ini aku merasa hasil karya ku di hargai oleh orang lain. Miss U Bunda . . . (~_~)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar