Senin, 02 Agustus 2010

Kisah Ku : Kenangan Di Hari Ibu


Hari ini hari ibu.
Semua orang meminta maaf dan berdoa.

Tapi, hari ini bukan hanya hari ibu bagi dirinya.

Hari ini punya kisah tersendiri.

Kisah yang sudah lama berlalu dan masih akan ia kenang.

Waktu itu..., tepatnya beberapa tahun yang lalu.

Seorang gadis malang berjalan sendirian.

Tak tersenyum, tak bicara.
Tertunduk, bisu.
Tak berteman dan mungkin tanpa tujuan datang kekota ini.
Namun keadaan membuat dia ada disini.

Keadaan yang menyadarkan dia tuk melakukan sesuatu untuk hidupnya.

Tuk menghilangkan perasaan-perasaan tersakitinya.

Dan untuk menghilangkan julukan kecilnya..... SIAL.

Itu adalah julukan yang sering di dengarnya ketika seseorang menanyakan: "Apakah dia bisa melakukan sesuatu, seperti bekerja misalnya?".

Namun jawaban yang didengar lebih mengerikan dari yang ingin dijawabnya.
"Ia bodoh, tidak bisa apa-apa. Ia akan membawa sial kalau ia ada dimana saja." Beribu tanda tanya menggangu pikirannya.
Ia ingin bangkit dari kelemahan-kelemahan itu.

Dan ia berhasil pergi dari kota menyakitkan itu.

Gadis pembawa sial, itu yang selalu diingatnya.

Sampai ia melanjutkan keinginannya untuk kuliah disebuah universitas negeri yang terkenal di Aceh ini.

Universitas Syiah Kuala.
Ya, itu adalah nama universitasnya.
Tak ada yang berubah dari gadis itu.

Meskipun ia telah beberapa bulan kuliah disini.

Hari-harinya terisi dengan bacaan-bacaan novel dan komik yang ia baca di sebuah pustaka kecil yang ada disekitar kawasan kampus.

Banyak mata memandang dia aneh.

Dia berbeda dengan yang lain mungkin.

Dia tak pernah menatap orang, ia selalu menunduk, meskipun saat ia berjalan.
Hanya tas ransel kecil berwarna hitam dan sepasang sandal rafilla menemaninya.
Ia benar-benar tak peduli apa yang dilakukan orang dikampus selain kuliah.

Bagi dia kuliah, pustaka dan rumah.

Tak ada kegiatan yang mampu menarik perhatiannya untuk mengikutinya.

Hinnga akhirnya, tanggal 22 desember 2005 ini datang.

Ditanggal inilah ia bertemu dengan seseorang.

Seseorang itu menghampirinya, berbicara dengannya dan menemaninya hari itu.

Ada perasaan gugup, canggung dan entah apa lagi namanya.

Yang pasti suasana hatinya saat itu benar-benar tak menentu.

Seseorang itu,
Ia memiliki magnet yang sanggup membuat gadis itu mulai merasa bahwa, masih ada orang disekitarnya mau menyapa dan peduli padanya.
Hari itu gadis itu mulai berbicara, mulai tersenyum, meskipun terlihat sedikit dipaksakan.
Kebersamaan yang beberapa detik itu mampu mencairkan suasana.

Entah siapa yang memulainya, hingga akhirnya cerita demi cerita mengalir dengan sendirinya.
Ada perasaan lega yang dirasakan gadis itu.

Semua beban seakan telah hilang terbawa angin.

Yang tersisa hanya kelegaan.
Cafee ini (Mbak Moole) menjadi saksi kegembiraan ini.

Dan sebuah ikatan persaudaraan terjalin disini.

Gadis sialan itu kini telah memiliki seorang abang, dan seseorang itu pun kini telah memiliki adik si gadis pembawa sial.

Tapi siapa yang mau peduli tentang julukan gadis itu waktu itu.

Kegembiraan telah membuang jauh julukan itu.

Dan hari ini adalah hari terbaik yang pernah ia miliki.

Karna mungkin setelah hari ini, moment ini akan hilang bersama waktu.

Bersama hari-hari yang kemudian mewarnai hari-hari kelabunya.

Kini gadis itu telah berubah, ia bukan dirinya yang dulu.

Dia menjadi kebanggaan bagi bapaknya, bagi abangnya, dan bagi orang yang menyayanginya.
Setelah sesuatu terjadi padanya.

Setelah sekian lama mereka membencinya dan hari ini, mereka kembali menyayanginya.

Namun perasan dan kenangan itu belum terhapus dari ingatannya.
Karna sampai detik ini aku dan gadis itu masih mengigatnya.
Karna aku dan gadis itu adalah satu.

Aku adalah gadis itu, dan gadis itu adalah aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar